Anggap saja ini seperti 3 tahun lebih 3 bulan yang lalu...
Ketika itu aku sering termakan rindu.
Untungnya ada kau.
Pelepas dahaga, menyejuk jiwa.
Ya, dulu.
Kini aku sesunyi akar yang terjepit diantara tanah penggumpal.
Keras, beku.
Karena bergerak bagiku adalah mimpi yang sempurna.
Saat itu.
Suara angin dapat kudengar.
Namun, tak pernah kunjung kutahu betapa indah wujud suara itu.
Seberapa banyak.
Seberapa besar.
Tak ada jawaban untuk pertanyaan yang tak pernah ditanyakan bumi pada langit.
Awalnya aku sudah tahu.
Kini aku semakin tahu.
Di sana, di tempat yang layak untuk orang terabaikan.
Tak bisa apa-apa, tak mampu berbuat lebih selain menunggu.
Menunggu datangnya hujan dikala karenanya, aku dapat tumbuh.
Lebih besar, lebih kuat, lebih berani untuk tunjukkan jadi diri yang sebenarnya.
Disaat engkau tak lagi turun.
Disaat itu pula aku tak akan pernah melihat apa yang ingin kulihat.
Sosok dibalik ribuan air pelepas dahaga, penyejuk jiwaku.
Aku rindu.
Serindu mata uang logam dan sisi lainnya.
Mereka selalu bersama, bersatu, tapi tak pernah bertemu.
Tak saling kenal.
Tak saling menyapa.
Tak saling...
Ya, aku hanya akan menjadi debu kelak.
Di mana tak akan ada yang sanggup memisahkan kita lagi.
Karena saat itu, aku tak perlu takut lagi kehilanganmu.
Tak perlu takut lagi kehabisan waktu melepas peluk erat manjamu.
Pelangi?
Ya, engkau akan selalu menjadi pelangi penghias hatiku.
Walau itu, hanya sementara.
Ketika itu aku sering termakan rindu.
Untungnya ada kau.
Pelepas dahaga, menyejuk jiwa.
Ya, dulu.
Kini aku sesunyi akar yang terjepit diantara tanah penggumpal.
Keras, beku.
Karena bergerak bagiku adalah mimpi yang sempurna.
Saat itu.
Suara angin dapat kudengar.
Namun, tak pernah kunjung kutahu betapa indah wujud suara itu.
Seberapa banyak.
Seberapa besar.
Tak ada jawaban untuk pertanyaan yang tak pernah ditanyakan bumi pada langit.
Awalnya aku sudah tahu.
Kini aku semakin tahu.
Di sana, di tempat yang layak untuk orang terabaikan.
Tak bisa apa-apa, tak mampu berbuat lebih selain menunggu.
Menunggu datangnya hujan dikala karenanya, aku dapat tumbuh.
Lebih besar, lebih kuat, lebih berani untuk tunjukkan jadi diri yang sebenarnya.
Disaat engkau tak lagi turun.
Disaat itu pula aku tak akan pernah melihat apa yang ingin kulihat.
Sosok dibalik ribuan air pelepas dahaga, penyejuk jiwaku.
Aku rindu.
Serindu mata uang logam dan sisi lainnya.
Mereka selalu bersama, bersatu, tapi tak pernah bertemu.
Tak saling kenal.
Tak saling menyapa.
Tak saling...
Ya, aku hanya akan menjadi debu kelak.
Di mana tak akan ada yang sanggup memisahkan kita lagi.
Karena saat itu, aku tak perlu takut lagi kehilanganmu.
Tak perlu takut lagi kehabisan waktu melepas peluk erat manjamu.
Pelangi?
Ya, engkau akan selalu menjadi pelangi penghias hatiku.
Walau itu, hanya sementara.

0 komentar:
Posting Komentar
Jadilah satu dari sekian banyak suara dengan manfaat di dalamnya.