Yang kuingat, aku masih dalam pelukan selimut hangat...
Di sana rupanya...
Bulan berkilau di kala malam membentang...
Seakan malu karena pagi kian datang...
Dengan nada burung-burung merpati itu...
Membuat dedaunan yang basah ikut menari...
Bunga-bunga di taman dekat pasar tradisional membuatku terdiam...
Mereka dengan indahnya membuka katup merah, kuning, birunya...
Tak ada angin yang sesepoi itu...
Menunda rasa di mana kerinduan menjadi tema utamanya...
Aku pun tiba di sebuah tempat yang ramai...
Terdapat penjual dan pembeli yang sibuk tawar menawar...
Aku tahu waktu itu aku sebodoh udang dibalik batu...
Yang tak akan beranjak bila tak ingin...
Ia pun datang...
Ada empat langkah yang tak seirama...
Mereka berdua mengenakan hijab merah dan kuning...
Aku tersenyum pada si merah...
Aku pun tak bisa berpaling dari si kuning...
Mereka berbeda namun mempunyai kelebihan yang nyaman untuk hati ini...
Aku bertanya, 'kenapa kamu di sini?', pada si kuning.
Ia hanya tersenyum...
Si merah perlahan menghampiri titik diamku, ia bertanya, '.....', padaku.
Kuperlihatkan ekspresi malu semalu malunya nyamuk pada cicak.
Aku pun meninggalkan mereka...
Bulan berubah warna...
Lebih bersinar dan lebih hangat...
Tak sampai kulangkahkan kaki kananku pada genangan air...
Satu bidadari muncul dengan berlari.
Aku memasang tanda tanya besar, 'mengapa ia di sini?'...
Aku pun mengikuti baunya...
Mencoba merangkak sebisa mungkin untuk dapat mengejar langkahnya.
Kali ini, untuk yang terakhir kali, aku tak ingin kehilangannya...
Sampai pada akhirnya, ia benar-benar telah pergi.
Aku terdiam, dibalik semen padat layaknya pijakan untuk duduk...
Aku menangis, dibalik penyesalan telah membiarkannya pergi dulu...
Namun, si biru pun kembali datang...
Seolah Tuhan memberikan kesempatan...
Ia duduk di samping kananku.
Begitu dekat...
Begitu tenang hati ini melihat raut wajahnya yang sangat amat indah.
Aku tak mampu berpaling...
Aku tak ingin beranjak...
Ia pun menggantungkan tangan kirinya pada leherku.
Aku tersenyum.
Ia juga mendekatkan wajah luar biasanya tepat di depan bola mata ini.
'Seandainya kau mampu mendengar ini, ada konser besar dengan volume dahsyat di dada ini!'
Sedetik pun berlalu...
Seakan mereka kembali datang untuk mengganggu.
Si merah dan si kuning...
Bergegas kulepaskan pelukan kecil darinya.
Si biru tak merespon, ia masih tersenyum.
Seolah ada tiga pilihan hebat menantiku.
Dua dari masa depan dan satu dari masa lalu.
Aku berdiri...
Memberanikan diri untuk mengusir si merah dan si kuning.
Waktu berhenti.
Semua aktivitas tak terkecuali...
Aku memegang erat tangan si biru.
'Jangan pergi, lagi.' ucapku padanya...
Ia mengangguk, dan menggelengkan kepalanya dengan tegas.
Aku tak tahu apa maksudnya?
Aku pun memeluknya...
Tak perduli ia nyata atau tidak...
Seperti mimpi...
Pertemuan yang sangat manis...
Untuk kali pertama, dengan sadarnya, aku tak ingin beranjak bangun.
Kelaparan yang kurindukan, bersamamu...
Ya, aku memang dalam pelukan selimut hangat.
Di sana rupanya...
Bulan berkilau di kala malam membentang...
Seakan malu karena pagi kian datang...
Dengan nada burung-burung merpati itu...
Membuat dedaunan yang basah ikut menari...
Bunga-bunga di taman dekat pasar tradisional membuatku terdiam...
Mereka dengan indahnya membuka katup merah, kuning, birunya...
Tak ada angin yang sesepoi itu...
Menunda rasa di mana kerinduan menjadi tema utamanya...
Aku pun tiba di sebuah tempat yang ramai...
Terdapat penjual dan pembeli yang sibuk tawar menawar...
Aku tahu waktu itu aku sebodoh udang dibalik batu...
Yang tak akan beranjak bila tak ingin...
Ia pun datang...
Ada empat langkah yang tak seirama...
Mereka berdua mengenakan hijab merah dan kuning...
Aku tersenyum pada si merah...
Aku pun tak bisa berpaling dari si kuning...
Mereka berbeda namun mempunyai kelebihan yang nyaman untuk hati ini...
Aku bertanya, 'kenapa kamu di sini?', pada si kuning.
Ia hanya tersenyum...
Si merah perlahan menghampiri titik diamku, ia bertanya, '.....', padaku.
Kuperlihatkan ekspresi malu semalu malunya nyamuk pada cicak.
Aku pun meninggalkan mereka...
Bulan berubah warna...
Lebih bersinar dan lebih hangat...
Tak sampai kulangkahkan kaki kananku pada genangan air...
Satu bidadari muncul dengan berlari.
Aku memasang tanda tanya besar, 'mengapa ia di sini?'...
Aku pun mengikuti baunya...
Mencoba merangkak sebisa mungkin untuk dapat mengejar langkahnya.
Kali ini, untuk yang terakhir kali, aku tak ingin kehilangannya...
Sampai pada akhirnya, ia benar-benar telah pergi.
Aku terdiam, dibalik semen padat layaknya pijakan untuk duduk...
Aku menangis, dibalik penyesalan telah membiarkannya pergi dulu...
Namun, si biru pun kembali datang...
Seolah Tuhan memberikan kesempatan...
Ia duduk di samping kananku.
Begitu dekat...
Begitu tenang hati ini melihat raut wajahnya yang sangat amat indah.
Aku tak mampu berpaling...
Aku tak ingin beranjak...
Ia pun menggantungkan tangan kirinya pada leherku.
Aku tersenyum.
Ia juga mendekatkan wajah luar biasanya tepat di depan bola mata ini.
'Seandainya kau mampu mendengar ini, ada konser besar dengan volume dahsyat di dada ini!'
Sedetik pun berlalu...
Seakan mereka kembali datang untuk mengganggu.
Si merah dan si kuning...
Bergegas kulepaskan pelukan kecil darinya.
Si biru tak merespon, ia masih tersenyum.
Seolah ada tiga pilihan hebat menantiku.
Dua dari masa depan dan satu dari masa lalu.
Aku berdiri...
Memberanikan diri untuk mengusir si merah dan si kuning.
Waktu berhenti.
Semua aktivitas tak terkecuali...
Aku memegang erat tangan si biru.
'Jangan pergi, lagi.' ucapku padanya...
Ia mengangguk, dan menggelengkan kepalanya dengan tegas.
Aku tak tahu apa maksudnya?
Aku pun memeluknya...
Tak perduli ia nyata atau tidak...
Seperti mimpi...
Pertemuan yang sangat manis...
Untuk kali pertama, dengan sadarnya, aku tak ingin beranjak bangun.
Kelaparan yang kurindukan, bersamamu...
Ya, aku memang dalam pelukan selimut hangat.

0 komentar:
Posting Komentar
Jadilah satu dari sekian banyak suara dengan manfaat di dalamnya.