Suara kicau burung pagi itu semerdu perasaannya kali ini.
Langkah yang biasanya mendatar disekitar jalan yang begitu rapuh, kini lebih
terangkat dan seirama. Semua orang tahu, ketika ia sedang tersenyum seperti
biasa dan ketika ia sedang tersenyum bahagia. Ya, semua temannya.
~~~~~
~~~~~
Pukul 05:31 AM.
Ragaku pergi,
jiwaku mengikuti, namun hatiku serasa tertinggal. Musik bernada klasik itu
berhenti tidak sesuai ritmenya. Aku pun menghentikan lari kencangku. Mencoba
menenangkan jantung yang tadinya terus bergetar. Aku menyesalinya. Serasa
bersalah karena menyalahi takdir. Takdir berhentinya lagu itu.
~~~~~
"Teeeett..."
bel masuk berbunyi. Tiba saatnya bagiku untuk menggetarkan jantungku kembali.
Walau ini tahun ajaran baru, di mana semua murid yang terkumpul di kelas ini
saling tak mengenal, namun aku masih merasa terasingkan. Mereka seakan sudah
akrab satu tahun lamanya. Saling menyapa, saling bercanda. Aku hanya bisa
melihat keasikan yang tidak lama lagi juga akan jadi milikku itu. Karena semua
perlu proses. Dan proses itulah yang terpenting.
~~~~~
Namanya Madhan.
Hanya itu yang kutahu. Selain itu, mungkin hanya menebak-nebak.
Namanya mulai
bersinar ketika pihak sekolah mengadakan pentas seni dengan Kotak band sebagai
bintang tamu, waktu itu. Seorang gitaris handal, pencipta lagu, atlet, dan
penulis. Itu lelaki bukan pangeran yang ada di dongeng-dongeng gitu, kan?
"Gitaris
handal? Tak perlu diragukan lagi. Tekniknya saat memainkan alat itu sudah
teruji di telinga ini. Pencipta lagu? Mungkin. Karena musik yang kudengar seminggu
yang lalu di kelasnya pagi itu terdengar asing. Ada kemungkinan itu nada-nada
lagunya. Atlet? Aku jadi membayangkan bagaimana bila orang itu telanjang. Dari
luar saat tegak berdiri saja seksinya minta ampun. Apa lagii... Penulis? Oke,
tanpa alasan pasti, aku menyukai lelaki ini." ucapku yang kutuangkan dalam
beberapa tulisan baru.
"Bremm..." suara senyap HP.
Kubuka pesan singkat yang sudah dua jam lamanya terkirim. "Haduuh, hmm... Yaudah, aku jemput sekarang ya, Din?" pesan dari Iren. Aku hanya membalasnya dengan emoticon titik dua dan tutup kurung.
Sudah seminggu berlalu mengingat langkah kedua kaki ini pada alas sekolah yang hangat diterpa mentari. Seperti bunyi angin pagi yang biasanya, meliku-liku seakan ingin diterjemahkan. Aku sampai di sekolah pukul 06.02 AM. Dengan sepeda motor Iren yang begitu anggun. Seanggun pemiliknya.
Aku mengenalnya seperti aku mengenal nasi. Iren, itu yang mereka ucap ketika hendak menyapa wanita berkulit putih menawan itu. Aku mengenalnya tak lama setelah aku mengenal Windy. Anaknya asik, mengerti apa yang kurasakan. Memahami apa yang sulit untuk sekedar paham akan pribadi seorang gadis yang hampir berumur 17 tahun.
"Hai Ireeen, hai Dindiiin..." teriak suara yang tak pernah asing di telinga ini.
"Hai Rimaa..." sahutku dan Iren bersamaan. Kami pun menghampirinya.
Ia terlihat girang dengan HP di tangannya. Seakan Rima mau menunjukkan sesuatu yang baru. Aku penasaran, tapi tidak untuk Iren. Ia terlihat tak ada kaget-kagetnya dengan berita di sosmed yang sedang heboh itu. Madhan, gitaris The Unbetables, dikabarkan telah merilis single terbarunya. Rima menunjukkan lagu yang terekam di soundcloud itu dengan terburu-buru. Aku mendengarnya seketika. Dan tak lama kemudian, melebarkan bibir manisku.
Di antara keempat gadis cantik itu, bisa dibilang hanya aku yang super kudet. Mengapa tidak? Kupikir, HP mana pun akan terlihat sama tanpa mengurangi titik fungsi yang sebenarnya. Telepon dan SMS. Tapi ternyata, aku masih salah. Memakai HP biasa dengan 21 tombol timbulnya, tanpa kamera, tanpa jaringan internet, tanpa bluetooth, tanpa apapun yang canggih, kecuali radio yang selalu menemani disela-sela keboringanku, membuatku terlihat terlalu tertinggal dalam hal pergaulan.
"Cuma ini?" kataku berharap ada tulisan baru lagi dari Madhan, yang membuatku menjadi pemuja rahasianya.
"Iya, masih inii..." jawab Rima tersenyum.
Aku mulai memata-matai semua karyanya setelah pertemuan singkat itu. Untuk semua agu-lagunya, cerpen-cerpennya, dan puisi-puisi yang kurasa bukan lelaki sekali. Dia terlalu romantis. Terlalu sempurna untuk ukuran seorang yang berhasil menghipnotis sebagian kaum hawa di sekolah ini. Walau tak semua yang suka, tapi aku yakin dia tetap juaranya dari kelima lelaki keren itu.
"Oh iya, Ren, Kak Riza berangkat jam berapaa?" ucap Rima yang selalu girang.
"Kakakku sih paling anti berangkat pagi. Mungkin sekarang masih tidur di kamarnya." singkat Iren.
Iren sendiri adalah adik sepupu dari salah satu personil The Unbeatables, Riza. Siapa tak kenal Kak Riza? Dia vokalis di band itu. Suaranya merdu, memungkinkan sebagian kaum hawa di sekolah ini berpihak padanya.
Riza, Madhan, Zakky, Endik, dan Doni. Berkat Riza dan Madhan lah, nama band itu semakin dikenal dikalangan remaja luar sekolah. Walau Madhan tak setampan Riza, entah mengapa, justru itu yang membuatku begitu mengagumi gitaris itu. Dan tak lama kami menggosip tentangnya, ia pun muncul.
Berjalan layaknya tanpa beban. Santai dengan tatapan mata yang begitu serius ke depan. "Kau tak akan tahu kan, betapa tajam dan mempesonanya mata itu saat bertatapan langsung?" batinku kembali terpikat.
Aku terdiam, berharap dia menoleh ke arahku. Tapi aku sadar harapan itu seperti halnya menaiki kuda di atas air. Dia terlalu cuek. Terlalu misterius untuk membuat gadis ini hanya sekedar ingin tahu. Inilah aku. Maksudku, inilah seorang wanita. Dengan seuntai harapan di dadanya. Tak bisa apa-apa, selain menunggu. Kalaupun ada yang lain, mungkin menanti. Dan akan selalu begitu, tanpa ada yang mengawali.
"Hmm, mungkin belum." batinku tersenyum.
"Pernah kutulis, sebuah cerita...Yang..." lirik itu pun berhasil membuatku gila.
~~~~~
"Bremm..." suara senyap HP.
Kubuka pesan singkat yang sudah dua jam lamanya terkirim. "Haduuh, hmm... Yaudah, aku jemput sekarang ya, Din?" pesan dari Iren. Aku hanya membalasnya dengan emoticon titik dua dan tutup kurung.
Sudah seminggu berlalu mengingat langkah kedua kaki ini pada alas sekolah yang hangat diterpa mentari. Seperti bunyi angin pagi yang biasanya, meliku-liku seakan ingin diterjemahkan. Aku sampai di sekolah pukul 06.02 AM. Dengan sepeda motor Iren yang begitu anggun. Seanggun pemiliknya.
Aku mengenalnya seperti aku mengenal nasi. Iren, itu yang mereka ucap ketika hendak menyapa wanita berkulit putih menawan itu. Aku mengenalnya tak lama setelah aku mengenal Windy. Anaknya asik, mengerti apa yang kurasakan. Memahami apa yang sulit untuk sekedar paham akan pribadi seorang gadis yang hampir berumur 17 tahun.
"Hai Ireeen, hai Dindiiin..." teriak suara yang tak pernah asing di telinga ini.
"Hai Rimaa..." sahutku dan Iren bersamaan. Kami pun menghampirinya.
Ia terlihat girang dengan HP di tangannya. Seakan Rima mau menunjukkan sesuatu yang baru. Aku penasaran, tapi tidak untuk Iren. Ia terlihat tak ada kaget-kagetnya dengan berita di sosmed yang sedang heboh itu. Madhan, gitaris The Unbetables, dikabarkan telah merilis single terbarunya. Rima menunjukkan lagu yang terekam di soundcloud itu dengan terburu-buru. Aku mendengarnya seketika. Dan tak lama kemudian, melebarkan bibir manisku.
Di antara keempat gadis cantik itu, bisa dibilang hanya aku yang super kudet. Mengapa tidak? Kupikir, HP mana pun akan terlihat sama tanpa mengurangi titik fungsi yang sebenarnya. Telepon dan SMS. Tapi ternyata, aku masih salah. Memakai HP biasa dengan 21 tombol timbulnya, tanpa kamera, tanpa jaringan internet, tanpa bluetooth, tanpa apapun yang canggih, kecuali radio yang selalu menemani disela-sela keboringanku, membuatku terlihat terlalu tertinggal dalam hal pergaulan.
"Cuma ini?" kataku berharap ada tulisan baru lagi dari Madhan, yang membuatku menjadi pemuja rahasianya.
"Iya, masih inii..." jawab Rima tersenyum.
Aku mulai memata-matai semua karyanya setelah pertemuan singkat itu. Untuk semua agu-lagunya, cerpen-cerpennya, dan puisi-puisi yang kurasa bukan lelaki sekali. Dia terlalu romantis. Terlalu sempurna untuk ukuran seorang yang berhasil menghipnotis sebagian kaum hawa di sekolah ini. Walau tak semua yang suka, tapi aku yakin dia tetap juaranya dari kelima lelaki keren itu.
"Oh iya, Ren, Kak Riza berangkat jam berapaa?" ucap Rima yang selalu girang.
"Kakakku sih paling anti berangkat pagi. Mungkin sekarang masih tidur di kamarnya." singkat Iren.
Iren sendiri adalah adik sepupu dari salah satu personil The Unbeatables, Riza. Siapa tak kenal Kak Riza? Dia vokalis di band itu. Suaranya merdu, memungkinkan sebagian kaum hawa di sekolah ini berpihak padanya.
Riza, Madhan, Zakky, Endik, dan Doni. Berkat Riza dan Madhan lah, nama band itu semakin dikenal dikalangan remaja luar sekolah. Walau Madhan tak setampan Riza, entah mengapa, justru itu yang membuatku begitu mengagumi gitaris itu. Dan tak lama kami menggosip tentangnya, ia pun muncul.
Berjalan layaknya tanpa beban. Santai dengan tatapan mata yang begitu serius ke depan. "Kau tak akan tahu kan, betapa tajam dan mempesonanya mata itu saat bertatapan langsung?" batinku kembali terpikat.
Aku terdiam, berharap dia menoleh ke arahku. Tapi aku sadar harapan itu seperti halnya menaiki kuda di atas air. Dia terlalu cuek. Terlalu misterius untuk membuat gadis ini hanya sekedar ingin tahu. Inilah aku. Maksudku, inilah seorang wanita. Dengan seuntai harapan di dadanya. Tak bisa apa-apa, selain menunggu. Kalaupun ada yang lain, mungkin menanti. Dan akan selalu begitu, tanpa ada yang mengawali.
"Hmm, mungkin belum." batinku tersenyum.
"Pernah kutulis, sebuah cerita...Yang..." lirik itu pun berhasil membuatku gila.
~~~~~
Bersambung...

0 komentar:
Posting Komentar
Jadilah satu dari sekian banyak suara dengan manfaat di dalamnya.