Sabtu, 12 Juli 2014

Cerpen 'Kau Terindah Yang Terbaik'

Suara kicau burung pagi itu semerdu perasaannya kali ini. Langkah yang biasanya mendatar disekitar jalan yang begitu rapuh, kini lebih terangkat dan seirama. Semua orang tahu, ketika ia sedang tersenyum seperti biasa dan ketika ia sedang tersenyum bahagia. Ya, semua temannya.
“Audin...” sapa beberapa teman akrabnya.
Berbeda dengan hari-hari biasanya, Audin meluruskan pandangannya pada jalan yang ia hendaki. Iren, Windy, dan Rima yang merasa teracuhkan, ikut heran dengan sikap Audin pagi itu.
Sampai di depan sebuah kelas musik, ia terhenti. Terlihat ia melebarkan apa yang sudah lebar, senyumnya. Bisa dibilang, itu adalah hari atau awal di mana ia mengenal cinta. Cinta yang begitu indah. Yang hanya mereka yang tahu. Ketika kita merasa kekurangan dan kemudian muncul seseorang yang dengan sadarnya melengkapi hidup ini. Serasa sempurna. Serasa dunia hanya milik mereka yang terlarut dalam cinta. Ketika yang terindah bertemu dengan yang terbaik.
Ia masih memfokuskan padangan yang tiada hentinya tersurat dalam artian menyapa. Seseorang dengan topi khasnya sedang memainkan gitar dengan merdu, walau pintu dan kaca kelas itu tertutup rapat. Seorang pria, dengan karisma yang luar biasa. Sebut saja ia, Madhan. Wakil ketua OSIS SMA Negeri 1 Manyar, Gresik, Jawa Timur.
“Woy...” teriak Iren tiba-tiba.
Audin tersentak. Memecahkan setiap lamunan bayangan tentang lelaki itu. Hanya senyumnya yang seolah menjelaskan bahwa ia baik-baik saja.
“Cieee... Yang habis jadian, terus nggak traktiran ciee...” ucap Windy memeluk punggung Audin.
“Haduuuh, baru juga kemarin. Sabar toh.” jawabnya dengan malu-malu.
“Kamu beruntung bangeet, Din. Secara ditembak artis besarnya sekolah ini. Ya ampun, Kak Madhaan, ganteng bangeet!” ucap Rima menggoda.
“Haduuh haduuuh, plis deh jangan lebay. Yaudah cus, kantin udah buka, kan?” singkat Audin.
Sambil melangkah menjauhi kelas musik itu, pandangannya pun serasa berat untuk sekedar menundanya. Sementara Madhan masih asik dengan gitarnya, tanpa perduli ada bidadarinya yang sedang mengamati dari arah jam sepuluhnya. Sampai Audin hilang dari tempat itu, Madhan pun masih tak beranjak dari keasikannya. Selang beberapa detik...
“Ada apa, bro? Kok berhenti? Keren itu aransemen. Lanjut.” sahut Zakky teman satu bandnya.
Ia tak merespon Zakky, malahan menoleh ke arah kaca yang membatasi luar dan dalam ruangan itu. Tersenyum, karena ia membayangkan Audin kekasih hatinya melihat permainan lagu barunya di luar sana. Namun, yang ia bayangkan, hanyalah bayangan dari apa yang ia bayangkan.
“Hoy, bro!?” sahut Zakky lagi.
“Hah? Apaan?”
“Itu, lanjut.”
“Hehe, oke oke. Eeeh, sampai di mana?”
Dan biarkan, si penulis itu meneruskan apa yang tak pernah ia mulai...

                                                                          ~~~~~
        
            Namaku Audin, panggil saja Dindin. Nama panjangku, Aauudiiiiinn. Hobiku menulis. Tapi tak ada yang lebih asik dari membaca dan berkomentar. Jujur? itu aku. Baik? itu juga aku. Cantik? Hmm baiklah, biarkan mereka saja yang menilai.
            Siswi 16 tahun dengan beberapa karya buku yang hampir saja terbit. Iya hampir. Ditolak beberapa kali untuk kesekian kali sudah jadi hal yang biasa kulalui. Dimarahin Mama karena sering tidur kemalaman bangun kesiangan, Diomelin guru setiap hari karena lupa nggak ngerjain tugas, sering sakit mag karena telat makan, di PHPin cowok ganteng karena katanya aku mudah percaya, dan lain-lain.
            "Dindiin sayaang... Sudah banguuun?" teriak seseorang dari bawah.
            "Iya, Ma. Bentaar. Ini juga lagi mandi." sambil menggosok gigi.
            "Sepuluh menit lagi! Mama tunggu di bawaaah..." teriaknya lagi.
            "Haah... Ya ya yaa..." jawabnya menggerutu.
            Hari ini adalah hari pertamaku menginjakkan kaki di salah satu sekolah favorit di Gresik. Berpindah-pindah, kulalui itu dengan perasaan yang sudah biasa. Seakan tradisi setiap tahunnya. Alasannya simple, ini berbicara tentang sesuatu yang berhubungan dengan sesuatu. Uang.
            "Ini hari pertamamu, kamu harus berangkat pagi-pagi. Berikan yang terbaik untuk mereka, calon teman-temanmu nanti." kata Mama selagi ia memakaikan dasi yang begitu rumit kukenakan.
            "Iya iya, Ma, lagian ini masih terlalu pagi. Emang ada makhluk hidup di sekolah itu yang udah dateng jam segini?" ucap Audin menoleh ke arah jam dinding.
           Begitu jelas jam itu berputar. Menandakan pukul 04:38 AM.
           "Udahlah, nurut aja kata Mama. Kali aja makhluk hidup pertama yang kamu lihat di sekolah barumu itu adalah makhluk hidup yang nantinya akan membuat hidup lebih berwarna. Bentar lagi umurmu juga nambah jadi sweet seventeen, kan? Ciee..." sambil merapikan seragam yang dikena Audin.
          "Oke, Mamaa menang dan selalu menaang..." singkat Audin.
          Roti berselai nanas dan secangkir susu hangat tersedia di meja yang begitu berantakan. Sisa-sisa piring dan gelas yang berdona bandel bekas kemarin malam menyelimuti meja yang awalnya hanya berantakan menjadi lebih berantakan. Bahkan minyak ayam goreng semalam begitu lengket di pinggiran piring yang menyediakan roti selai nanasku. "Ih... Ma??" teriakku menoleh ke belakang. Mama hanya menatapku dengan senyumnya yang begitu menggoda. Seakan, aku yang salah.
          "Oh, baiklah..." ucapku membereskan semua kekacauan itu.

                                                                        ~~~~~

           Pukul 05:31 AM.
           "Siap?" kata Mama dalam mobil.
           "Huuh... Siap." jawabku menghela napas.
           Tak lupa dengan kecupan hangat di kedua pipi Mama, aku pun keluar dari mobil putih dengan pintu bergeser itu.
           Dari depan sekolah, nampak sepi aura yang terpancarkan. Sang fajar juga malu-malu untuk sekedar menyinari pagi ini. Kulangkahkan alas kanan kakiku menuju gerbang putih itu. Aku masuk dengan perasaan yang was-was. Gadis sepertiku akan terlihat mencolok bila meneruskan berjalan layaknya Miss Indonesia. Kuurungkan niat itu dan mendeteksi adanya tanda-tanda kehidupan.
           "Jreeeng..." suara gitar menggema merdu.
           Seketika, aku pun menghentikan langkahku. Sekitar empat langkah dari tempatku berhenti. Sebuah kelas, dengan pintu utamanya yang setengah terbuka. "Jengjreeng..." irama gitar itu berlanjut. Dengan nada awalan oktaf pertama dan terus naik ke oktaf berikutnya. Terdengar seperti sebuah rekaman mp3 yang bersih. Sebuah nada yang berevolusi menjadi sebuah musik. Klasik, merdu, enak, nyaman untuk pagi yang cerah. Dari mana aku tahu itu suara gitar dan musik semacamnya? Ya, apa aku lupa memberi tahu hobiku yang kedua?
           Karena perasaan hati yang penasaran, bergegas kulewati pintu kelas itu dengan senyum. Musik pun berhenti. "Upss... Maaf." ucapku pada seorang lelaki dengan gitar kayunya.
           Lelaki itu menatapku. Ia menyipitkan kedua matanya seakan ingin tahu makhluk apa aku ini. Aku terdiam. Menelan air liyur yang terkumpul seadanya. Berkedip sebisanya. Mengambil oksigen sedapatnya. Beberapa detik berlalu tanpa kata. Rasa nervesku pun semakin menggila. Memangnya, apa yang bisa di-perbuat seorang gadis pada seorang lelaki dalam kediamannya. Ya, ya menunggu.
           "Eeh, siapa?" tanyanya. Dari sekian detik berlalu dengan percuma dan ia hanya bertanya siapa? Ku-pikir dia orang pertama yang terkagum dengan pesona islamiku.
           "Aku... Eeeh..."
           Ia pun berdiri. Menaruh gitar yang terlihat berat di tangan kanannya. Berjalan, pelan, begitu hati-hati, mendekatiku layaknya aku adalah mangsanya. "Ya ampun, dia semakin dekat." batinku mulai ketakutan. Tiba-tiba, suara keras muncul, "bruoook". Gitar yang ia taruh disenderan meja kelas itu pun bergeser secara perlahan dan jatuh kemudian. Lelaki itu menoleh asal bunyi keras tersebut. Tak lama, hanya sedetik reflek yang ditunjukkan lelaki itu, ia pun kembali menoleh ke arah tempatku terdiam. Ia heran, seheran daun yang dijatuhkan angin. Mengapa tidak? Aku memanfatkan gitar jatuh itu untuk lari dari tempat yang mendukung untuk sebuah perkenalan. "Seorang laki-laki untuk sebuah awal? Tidak! Aku belum siap!" batinku melayang.
            Ragaku pergi, jiwaku mengikuti, namun hatiku serasa tertinggal. Musik bernada klasik itu berhenti tidak sesuai ritmenya. Aku pun menghentikan lari kencangku. Mencoba menenangkan jantung yang tadinya terus bergetar. Aku menyesalinya. Serasa bersalah karena menyalahi takdir. Takdir berhentinya lagu itu.
            "Haah... Dia manusia bukan sih? Terlalu pagi untuknya berada di kelas." ucapku bingung.
            Tak lama dari itu, dada kiriku bergetar. Membuat geli dan ingin sekali kuremas. "Haloo?" ucapku dengan napas yang masih terengah-engah. "Iya sayang, cuma mau kasih tahu kalau Mama nanti siang sekitar jam sepuluh sudah lepas landas. Mungkin lusa atau hari berikutnya Mama balik lagi ke Gresik. Jaga dirimu baik-baik ya. Semangat sayaaang..." singkat Mama di telepon dan tanpa menunggu jawabku, ia menutupnya.
            Aku hanya tersenyum. Inilah keluargaku. Dengan kesibukan mereka masing-masing. Papaku harus keluar kota setiap aku rindu dan ada disaat aku tak begitu mengharapkannya. Sementara Mamaku, ia harus mengurusi dua perusahaannya yang berada di Bandung. Alasan mengapa aku sering pindah, karena alasan pertama dari Papaku. Karena sekarang Papa menetap di kota Surabaya, aku pun mengikutinya di kota tetangga. Kota para santri, kota yang terkenal dengan pudaknya, masakan khas krawunya, dan yang paling penting katanya lelaki di sini lebih berkualitas daripada kotaku sebelumnya. Katanya sih...
            Aku pun menaruh HP yang berada di saku kiri dibalik hijab putih pupusku. Mengurungkan niat untuk meremasnya. Seakan tak peduli, kulanjutkan langkah pencarian kelas XII-IPA 4. Calon kelasku. Dan kusadari setelah memutari sekolah luas itu, kelas itu berada tepat disamping kelas pertemuanku dengannya. Lelaki bertopi abu-abu.

                                                                        ~~~~~

            "Teeeett..." bel masuk berbunyi. Tiba saatnya bagiku untuk menggetarkan jantungku kembali. Walau ini tahun ajaran baru, di mana semua murid yang terkumpul di kelas ini saling tak mengenal, namun aku masih merasa terasingkan. Mereka seakan sudah akrab satu tahun lamanya. Saling menyapa, saling bercanda. Aku hanya bisa melihat keasikan yang tidak lama lagi juga akan jadi milikku itu. Karena semua perlu proses. Dan proses itulah yang terpenting.
            "Hai..." sapa salah satu calon temanku. Kuhembuskan napas beratku, berharap ia yang menyapaku adalah seorang wanita. Kugelengkan leherku ke arah di mana sumber suara merdu itu terdengar. Seketika, aku terkagum. "Wow, cantik sekali orang ini." batinku.
            "Namaku Windyanti, panggil saja Windy." sambil menjulurkan tangan kanannya.
            "Oh, hai. Eeeh, namaku Audin. Kamu boleh panggil itu." jawabku dengan senyum andalanku.
            "Ooh Audin. Kamu murid baru ya? Dari mana?" lanjutnya.
            "Aku dari tadi pagi. Hehehe..." singkatku.
            Dengan mudahnya, aku pun akrab secepat bintang yang jatuh. Canda dengan canda. Itulah keahlian tersembunyiku. Sudah hal yang biasa beradaptasi dengan lingkungan asing. Bahkan kata loe dan gue yang sudah menjadi kebiasaan, serasa akan menjadi hal yang baru lagi bila aku kembali ke Ibu Kota.
            Beberapa menit usai aku memperkenalkan diri di depan kelas, seseorang yang tak asing masuk ke kelas baruku. Kukira hanya aku yang melongo dengan paras lelaki itu. Ternyata, hampir semua kaum hawa di kelas melakukan hal yang serupa. Seketika aku terheran diam. Beranggapan bahwa lelaki ini pasti sangat terkenal di kelas ini. Lelaki yang tak asing, dengan topi abu-abunya tadi pagi. Ia mengantarkan sehelai kertas untuk segera ditanda tangani oleh si guru. "Apa itu?" batinku menebak-nebak.
            Kelas yang awalnya heboh dengan teriak-teriakan, kini menjadi lebih tenang ketika lelaki itu tanpa sengaja menoleh ke arahku. Diam, seakan mengamati tiap lekukan pipi dan indah mataku. Dengan sadar, seluruh teman kelas pun mengalihkan perhatiannya padaku. Aku bingung, sebingung semut yang berjalan di tengah badai. Berharap ada seseorang yang mau menjelaskan semua ini padaku. Ia mengambil kertas yang usai ditanda tangani. Berjalan keluar, dan menitipkan seuntai senyum manis padaku. Iya, padaku.
           Kelas mulai heboh kembali. Windy memegang erat tangan kiriku. Menjelaskan dengan terburu-buru bahwa lelaki tadi adalah artisnya sekolah ini. "Hah artis? Sekolah ini!?" sahutku agak nyolot. "Kupikir hanya di kelas ini." batinku.
           Aku pun mengirim sebuah pesan singkat untuk Mama tercintaku. "Ma, aku sangat suka sekolah ini!" dengan emoticon titik dua dan bintang.

                                                                          ~~~~~

            Namanya Madhan. Hanya itu yang kutahu. Selain itu, mungkin hanya menebak-nebak.
            Namanya mulai bersinar ketika pihak sekolah mengadakan pentas seni dengan Kotak band sebagai bintang tamu, waktu itu. Seorang gitaris handal, pencipta lagu, atlet, dan penulis. Itu lelaki bukan pangeran yang ada di dongeng-dongeng gitu, kan?
            "Gitaris handal? Tak perlu diragukan lagi. Tekniknya saat memainkan alat itu sudah teruji di telinga ini. Pencipta lagu? Mungkin. Karena musik yang kudengar seminggu yang lalu di kelasnya pagi itu terdengar asing. Ada kemungkinan itu nada-nada lagunya. Atlet? Aku jadi membayangkan bagaimana bila orang itu telanjang. Dari luar saat tegak berdiri saja seksinya minta ampun. Apa lagii... Penulis? Oke, tanpa alasan pasti, aku menyukai lelaki ini." ucapku yang kutuangkan dalam beberapa tulisan baru.
             "Bremm..." suara senyap HP.
             Kubuka pesan singkat yang sudah dua jam lamanya terkirim. "Haduuh, hmm... Yaudah, aku jemput sekarang ya, Din?" pesan dari Iren. Aku hanya membalasnya dengan emoticon titik dua dan tutup kurung.
             Sudah seminggu berlalu mengingat langkah kedua kaki ini pada alas sekolah yang hangat diterpa mentari. Seperti bunyi angin pagi yang biasanya, meliku-liku seakan ingin diterjemahkan. Aku sampai di sekolah pukul 06.02 AM. Dengan sepeda motor Iren yang begitu anggun. Seanggun pemiliknya.
             Aku mengenalnya seperti aku mengenal nasi. Iren, itu yang mereka ucap ketika hendak menyapa wanita berkulit putih menawan itu. Aku mengenalnya tak lama setelah aku mengenal Windy. Anaknya asik, mengerti apa yang kurasakan. Memahami apa yang sulit untuk sekedar paham akan pribadi seorang gadis yang hampir berumur 17 tahun.
             "Hai Ireeen, hai Dindiiin..." teriak suara yang tak pernah asing di telinga ini.
             "Hai Rimaa..." sahutku dan Iren bersamaan. Kami pun menghampirinya.
             Ia terlihat girang dengan HP di tangannya. Seakan Rima mau menunjukkan sesuatu yang baru. Aku penasaran, tapi tidak untuk Iren. Ia terlihat tak ada kaget-kagetnya dengan berita di sosmed yang sedang heboh itu. Madhan, gitaris The Unbetables, dikabarkan telah merilis single terbarunya. Rima menunjukkan lagu yang terekam di soundcloud itu dengan terburu-buru. Aku mendengarnya seketika. Dan tak lama kemudian, melebarkan bibir manisku.
             Di antara keempat gadis cantik itu, bisa dibilang hanya aku yang super kudet. Mengapa tidak? Kupikir, HP mana pun akan terlihat sama tanpa mengurangi titik fungsi yang sebenarnya. Telepon dan SMS. Tapi ternyata, aku masih salah. Memakai HP biasa dengan 21 tombol timbulnya, tanpa kamera, tanpa jaringan internet, tanpa bluetooth, tanpa apapun yang canggih, kecuali radio yang selalu menemani disela-sela keboringanku, membuatku terlihat terlalu tertinggal dalam hal pergaulan.
             "Cuma ini?" kataku berharap ada tulisan baru lagi dari Madhan, yang membuatku menjadi pemuja rahasianya.
             "Iya, masih inii..." jawab Rima tersenyum.
             Aku mulai memata-matai semua karyanya setelah pertemuan singkat itu. Untuk semua agu-lagunya, cerpen-cerpennya, dan puisi-puisi yang kurasa bukan lelaki sekali. Dia terlalu romantis. Terlalu sempurna untuk ukuran seorang yang berhasil menghipnotis sebagian kaum hawa di sekolah ini. Walau tak semua yang suka, tapi aku yakin dia tetap juaranya dari kelima lelaki keren itu.
              "Oh iya, Ren, Kak Riza berangkat jam berapaa?" ucap Rima yang selalu girang.
              "Kakakku sih paling anti berangkat pagi. Mungkin sekarang masih tidur di kamarnya." singkat Iren.
              Iren sendiri adalah adik sepupu dari salah satu personil The Unbeatables, Riza. Siapa tak kenal Kak Riza? Dia vokalis di band itu. Suaranya merdu, memungkinkan sebagian kaum hawa di sekolah ini berpihak padanya.
              Riza, Madhan, Zakky, Endik, dan Doni. Berkat Riza dan Madhan lah, nama band itu semakin dikenal dikalangan remaja luar sekolah. Walau Madhan tak setampan Riza, entah mengapa, justru itu yang membuatku begitu mengagumi gitaris itu. Dan tak lama kami menggosip tentangnya, ia pun muncul.
              Berjalan layaknya tanpa beban. Santai dengan tatapan mata yang begitu serius ke depan. "Kau tak akan tahu kan, betapa tajam dan mempesonanya mata itu saat bertatapan langsung?" batinku kembali terpikat.
              Aku terdiam, berharap dia menoleh ke arahku. Tapi aku sadar harapan itu seperti halnya menaiki kuda di atas air. Dia terlalu cuek. Terlalu misterius untuk membuat gadis ini hanya sekedar ingin tahu. Inilah aku. Maksudku, inilah seorang wanita. Dengan seuntai harapan di dadanya. Tak bisa apa-apa, selain menunggu. Kalaupun ada yang lain, mungkin menanti. Dan akan selalu begitu, tanpa ada yang mengawali.
              "Hmm, mungkin belum." batinku tersenyum.
              
              "Pernah kutulis, sebuah cerita...Yang..." lirik itu pun berhasil membuatku gila. 

                                                                       ~~~~~
             

Bersambung...

0 komentar:

Posting Komentar

Jadilah satu dari sekian banyak suara dengan manfaat di dalamnya.

 
;