Selasa, 08 Juli 2014

Surat Pertama dan Terakhir untuk Adinda


A...
Kuawali langkah besarku padamu dengan kata A...
Tak terkecuali hanya untuk membuatmu terkagum...
Tak terkecuali hanya untuk membuatmu tersenyum...

Apakah engkau merasakannya pula?
Perasaan yang begitu menggoda bibir ini...
Serasa bahagia dari awal membuka surat ini dari amplop putih...
Seputih, sesuci hati ini untukmu...

Aku tak pandai merangkai kata...
Aku pun tak pandai mengartikan setiap perhatian yang kau pancarkan dari kedua bola matamu...
Begitu pelan bulu mata itu turun...
Begitu anggun ketika bulu mata itu telah naik...
Ini aneh, perasaan ini...
Memandang saja, aku tak mampu...

Setiap malam aku tulis namamu dalam ingatanku...
Berharap bulan sampaikan apa yang ada dalam pikiranku padamu...
Namun, apakah engkau juga merasakan?
Perasaan yang sama layaknya aku?
Tak ada jawaban untuk pertanyaan yang mengambang...

Sudah lama ini berlangsung...
Kira-kira tujuh malam ketika awal yang kumulai dan tak ingin kuakhiri...
Pertemuan di saat engkau jatuh...
Jatuh hati pada sisi lain layar jejaring sosial...
Sungguh kuingin bertemu, tapi tak yakin...

Engkau laksana kembang anyelir...
Yang tanpa penyokong tak dapat hidup tegak...
Itulah gunanya aku...
Aku bersedia, apapun...
Aku pun perlu engkau...
Bagaimana pun caranya...

Jika engkau sudah sampai pada kalimat akhir ini...
Di saat itu pula aku akan mulai menunggu...
Menunggu balasan surat...
Surat yang mungkin membosankan...
Surat yang mungkin akan begitu mudah engkau abaikan...
Dan itu akan selalu menjadi kata mungkin...

A...
Adinda...
Adindaa...
Dalam benakku selalu menjerit...

Baiklah, selamat tinggal.



2 komentar:

Galeri Mama Arfan mengatakan...

ketulusan hati menghadap penantian :')

teruslah berkarya gan (y) :D

Unknown mengatakan...

Iya, makasih loh gan :-D

Posting Komentar

Jadilah satu dari sekian banyak suara dengan manfaat di dalamnya.

 
;